Kisah Fatimah Az-Zahra | Memberilah Meskipun Kekurangan

Posted on

Kisah Fatimah Az-Zahra | Memberilah Meskipun Kekurangan

Kisah Fatimah Az-Zahra | Memberilah Meskipun Kekurangan
Kisah Fatimah Az-Zahra | Memberilah Meskipun Kekurangan

Bismillahirrahmanirrahim… Assalamualaykum warahmatullahi wabarakatuh, Ku awali tuilsan ini dengan kisah pemimpin wanita syurga, putri kesayangan baginda Rosul, dari keluarga nan kekurangan di jaman Rosululloh. Adalah kisah Fatimah Az-Zahra putri Baginda Rosul yang kemudian membina rumah tangganya dengan Ali R.A dari titik minus alias berutang.

Rumah tangga mereka benar-benar pelik dan bisa dikatakan fakir miskin. Dua status ini yang kemudian melekat pada keluarga beliau, akan tetapi status ini tak sedikitpun mengurangi kemuliaan mereka di sisi Allah. Saat kehidupan duniawi yang terasa menghimpit dan mengusik kehidupan rumah tangga beliau. Sebagai seorang wanita, tentunya keluh kesah terhadap keluarga terdekat adalah salah satu jalan untuk menghadapi permasalahan hidup.

Beliau kemudian meminta kepada Sang Ayah tercinta dengan mata penuh kasih sayang: “Wahai ayahku, berikanlah aku khadimat (pembantu)…. Sebagai seorang perempuan yang di tengah kesempitan hidup, tentu akan senantiasa berusaha mencari jalan untuk bisa memenuhi keperluan rumah tangganya. Suami beliau Ali RA yang hanya kuli penimba air di sumur zam-zam tak banyak membantu memenuhi keperluan rumah tangga beliau. Bahkan saat mereka bercengkerama setelah seharian bekerja dan saling curhat tentang pekerjaan, isinya adalah kesulitan dalam mencari nafkah.

Berikut penuturan keluarga mulia ini: “Wahai suamiku, aku sangat lelah seharian menggiling gandum untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarga kita? ungkapnya mesra dengan suami beliau. Akan tetapi yang ditanya justru curhat dengan hal yang lebih pedih lagi. “Aku juga lebih parah dari itu wahai isteriku, lenganku hampir putus setelah menimba air seharian? Mereka berdua saling berkisah dengan pekerjaan masing-masing. Dari urusan inilah Fatimah mencari jalan untuk kemudian mencoba meringankan beban hidup keluarganya. Mengajukan permohonan khadimat kepada Ayahanda tercinta Rosullulloh SAW. Namun, apakah permintaan ini dikabulkan?

“Wahai, anakku Fatimah. Maukah kutunjukkan satu permintaan yang lebih mulia dari seorang khadimat?. Rosul menatap wajah anaknya lekat-lekat dan melanjutkan tuturnya, “Maka bertasbilah pada Allah dengan kalimat Subhanallah, Walhamdulillah, Walaa ilaha illallohu Allohu Akbar Wa lilla Ilhamd sebanyak 33 kali? Seketika Fatimah terdiam dan dengan mata berkaca menatap sang Ayah. Beliau kembali dengan tidak membawa khadimat tapi seolah membawa seluruh isi bumi dan langit kedalam rumahnya. Teringat satu nasyid dari seorang munsyid terkenal yang melantunkan semesta bertasbih yang bahkan alam raya pun turut memuji Allah.

Kemudian Fatimah mengamalkannya disaat beliau melakukan aktifitasnya dan bahkan disaat menggiling gandum. Dan dikisahkan pula bahwa, gandum yang digilingnya ikut bertasbih bersama Fatimah. Di tengah kesulitan dan kondisi yang bahkan sangat berkekurangan, tak mengurangi sedikit pun kesungguhan beliau dalam beramal dan mempersembahkan yang terbaik.

Kisah lain yang tertoreh sangat indahnya dalam sejarah, kisah istri Rosul yang sangat dermawan. Menyamak kulit sapi menjadi bahan pakaian serta kerajinan sulaman kemudian menjualnya dan menginfakkannya di jalan Alloh. Adakah pernah terbesit dalam benak kita menjadi penginfak terbesar dengan hasil keringat kita sendiri? Jika tidak, maka ku jawab “inilah obsesiku!

Menjadi seperti Zainab binti Jahsy.

Jika melihat jauh kebelakang tentang sejarah yang pernah tertoreh begitu indah yang digambarkan oleh Rosul dan sahabat serta sahabiyah. Mereka saling memberi bahkan saat mereka kekurangan, sebut saja kisah tentang seorang Ansor yang memuliakan tamunya dengan sebaik-baik akhlak.

Suatu ketika ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW. Ia bermaksud meminta bantuan kepada Nabi karena sedang dalam kesusahan. Rasulullah kemudian menyuruh laki-laki itu untuk menemui salah satu istrinya. Maka istri Rasul berkata, “Demi Allah yang telah mengutusmu dengan hak, aku tidak mempunyai apapun kecuali air. Mendengar itu, Rasul menyuruh laki-laki itu kepada istri beliau yang lain. Ternyata, hasilnya sama. Istri Rasulullah hanya punya air. Rasul kemudian bersabda di hadapan para sahabat, “Siapa yang mau menjamu tamu pada malam ini? Seorang laki-laki dari kaum Anshar menyanggupinya. “Aku, ya Rasul.

Orang Anshar ini lalu membawa laki-laki tersebut ke rumahnya. Sesampai di rumah ia berkata kepada istrinya, “Wahai istriku, muliakanlah tamu Rasulullah ini. Apakah engkau punya sesuatu? Istrinya menjawab, “Tidak, kecuali makanan anak-anak kita? Mendengar jawaban istrinya, orang Anshar ini tidak lantas mengusir sang tamu. Ia berpesan kepada istrinya, “Hiburlah mereka (anak-anaknya). Jika mereka mau makan malam maka tidurkanlah. Jika tamu kita sudah masuk, matikanlah lampu dan perlihatkan kepadanya seolah-olah kita sedang makan. Tamu itu pun datang. Mereka semua duduk, Tamu itu pun makan dalam keadaan gelap. Orang Anshar dan istrinya menemani sang tamu, seolah-olah sedang makan pula. Akhirnya sahabat Anshar dan istrinya itu tidur dalam keadaan lapar.

Ketika waktu Subuh, sahabat Anshar ini menemui Rasulullah SAW dan menceritakan perbuatannya. Nabi pun berkata, “Allah sungguh takjub karena perbuatan engkau bersama istrimu tadi malam pada saat menjamu tamu. (Mutafaq alaih) Begitu pentingnya memberi, sehingga dalam Al-Quran terdapat banyak perintah mengenai amalan utama ini.

Misalnya dalam Qur’an Surat Ibrahim ayat 31:

“Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang beriman, hendaklah mereka mendirikan shalat, menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi maupun terang-terangan, sebelum datang hari (kiamat) yang pada hari itu tidak ada jual-beli dan persahabatan.

Pernah sekali saat berada di supermarket, adikku membeli eskrim yang sangat ia inginkan. Ketika tiba di parkiran motor untuk kembali ke rumah, seorang anak kecil mendekat menengadahkan tangan. Segera ia menatap wajah anak perempuan itu dengan senyum dan dengan ringannya memberikan eskrim setelah merengek tiga hari sebelumnya meminta untuk dibelikan. Maka, kukatakan pada diriku saat itu: “Adikku, dirimu membuatku kembali bersemangat untuk mengejar obsesiku menjadi Zainab binti Jahsy.

Memberilah walaupun kekurangan, karena sejatinya kita tidak berada dalam kekurangan, yang ada hanyalah membagikan rezeki yang tertitip di kita kepada orang lain. Dan sungguh ketika bentuk kesyukuran memberi adalah di saat sempit dan lapang, bukankah Alloh telah menjanjikan kepada kita dengan menambah nikmatNya saat kita memberi?

Memberilah walaupun kekurangan, kedengarannya tak mudah. Namun dapat kita wujudkan, karena penyesalan kan selalu berada di akhir. Saat kita di hentakkan oleh waktu yang seketika berhenti dan menimbang segala apa yang telah kita perbuat.

Memberilah meskipun kekurangan. Tak kan ada henti untuk memberi, tak harus dengan materi, tapi juga ilmu, tenaga, pikiran, dan senyum. Ya Robb, teguhkan dan buat ikhlas serta sabar dalam menjalaninya. Ya Robb, bukankah pintu syurga-Mu begitu banyak dan salah satunya adalah pintu memberi? Ya Robb, semoga kami semua dapat berkumpul dengan saudara-saudara kami kelak dalam sebuah majelis bersama Rosulullah, sampai-sampai diri ini berimajinasi dan takjub.

Majelis yang lingkarannya tak berujung namun ajaibnya, kita semua dengan seksama dapat saling melihat wajah Rosul yang sering dikatakan oleh para sahabat seperti bulan purnama. Serta dapat saling bercengkerama menimba ilmu dengan para sahabat dan sahabiyah secara langsung. Ya Rosul, rindu ini teramat sangat untuk dapat bertemu denganmu. Namun apakah kemudian yang dapat kita katakan saat bertemu? Mungkinkah? Insyaalloh, aamiin! Tak tau dapat bertemu atau tidak, namun kita hanya dapat bermimpi dan berprasangka bahwa kelak Alloh dapat mempertemukan kita semua. Dan jazakillahu khoir.

Baca Juga :

salam @ isu hangat